Tren Fashion Muslim 2019

Dalam gelaran Ramadan Runway 2019 yang diselenggarakan di Kota Kasablanka Mal sejak awal bulan lalu, terungkap sejumlah tren fashion muslim tahun 2019.

Acara yang digelar sejak 5 Juni 2018 ini diikuti oleh lebih dari 70 brand fashion terpilih dan menjadi referensi utama tren busana muslim Indonesia di tahun depan. Talkshow, fashion show, exhibition dan kompetisi Modest Fashion Project 2018 untuk desainer muda mewarnai perhelatan yang telah berlangsung untuk keenam kalinya di setiap bulan Ramadan.

Dari sejumlah rancangan desain yang ditampilkan, tren fashion muslim 2019 akan didominasi desain yang lebih simple, ringan dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Material seperti organdy, chiffon, most crepe, cotton silk akan mudah ditemui dalam karya para desainer tahun depan.

Gelaran yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia DKI Jakarta, sendiri mampu membukukan setidaknya Rp. 6,35 Miliar dan berhasil meningkatkan trafik pengunjung mal hingga 51% dari rata-rata jumlah pengunjung pada hari biasa. Omset tertinggi diraih oleh brand Batique dengan total penjualan Rp. 520 Juta. Ini menunjukkan antisiasme yang sangat tinggi dari pencinta mode tanah air.

“Ramadan Runway 2019 memberikan warna penting dalam industri fashion Indonesia. Selama 20 hari penyelenggaraan acara ini, kita bisa menyaksikan koleksi-koleksi yang menggambarkan kreativitas dan semangat para desainer untuk memberikan yang terbaik kepada para pecinta fashion muslim. Sambutannya pun luar biasa, termasuk saat gelaran Midnight Sale. Dan sebagai referensi utama tren fashion muslim tahun depan, Ramadan Runway 2019 merupakan bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kiblat fashion muslim dunia di tahun 2020 mendatang,” ujar Rudy Chandra, Ketua APPMI DKI Jakarta.

Booth Batique di Ramadan Runway 2019

Tren Fashion Muslim 2019

Rudy menambahkan, berkaca dari beragam koleksi yang ditampilkan pada Ramadan Runway 2019, pada tahun depan kita akan menikmati tren busana muslim dengan desain yang lebih simple, ringan dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Material seperti organdy, chiffon, most crepe, cotton silk akan mudah ditemui dalam karya para desainer. Warna-warna yang memberi kesan sejuk akan mendominasi, begitu pula warna-warna basic, seperti hitam, putih, off-white, navy blue dan abu-abu.

Ia juga memprediksikan bahwa sejumlah desainer yang berpartisipasi dalam Ramadan Runway 2019 harus mendapat perhatian penting dari para fashionistas di tahun depan. “Saya melihat ada sejumlah desainer yang memiliki kreativitas sangat kuat dan harus diantisipasi oleh fashionista muslim pada tahun depan, seperti Ariy Arka, Dana Duryatna dan Nita Seno Adjie,” ujarnya.

Abee by Ariy Arka sering menampilkan sentuhan bordir dan karyanya selalu dinantikan oleh para pecinta fashion. Dana Duryatna memiliki konsumen setia yang selalu memilih desain busana-busana longgar dengan bahan-bahan print dari linen dan katun. Dan Nita Seno Adjie yang sering tampil di panggung fashion mancanegara sangat piawai memadukan desain modern dengan motif-motif tradisional.

Kombinasi modern dan tradisional ini juga banyak terlihat pada karya para desainer di Ramadan Runway 2019. Umumnya mereka tidak berusaha menonjolkan salah satu, modern atau tradisional. Harmoni dalam usaha menampilkan new look, mengikuti arus tren mode dan memberi sentuhan tradisi tanpa kehilangan ciri khas dari brand adalah tantangan tersendiri bagi para desainer. Inilah yang membuat karya setiap desainer unik dan selalu mendapat tempat di hati para pecinta fashion Indonesia yang multikultural.

APPMI sendiri adalah wadah bagi desainer dan pengusaha mode Indonesia. Asosiasi ini berdiri pada 22 Juli 1993 di Hotel Borobudur, Jakarta atas prakarsa Poppy Dharsono. Berdirinya asosiasi ini juga didukung beberapa tokoh mode senior, seperti Peter Sie, Iwan Tirta, Pia Alisjahbana, Harry Darsono. APPMI memiliki visi dan misi membina, mengangkat dan mengembangkan citra fesyen Indonesia.

Sebagai organisasi berskala nasional dan memiliki banyak cabang yang tersebar di pelbagai daerah di Indonesia, APPMI memiliki anggota baik perancang senior maupun perancang muda berbakat yang tersebar di beberapa wilayah seperti, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Bali, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat. Joss Gandoos. (Lukman Hqeem)